Ada satu hal yang tidak bisa dilakukan Brahman:
Brahman tidak bisa memisahkan Dirinya dari kita. Kenapa? Dalam ilmu spiritual
Jawa disimpulkan dalam kalimat ya sira ya ingsun. Karena Brahman adalah
hidup kita.
Kalimat sangkan paraning dumadi sudah tidak asing lagi bagi
telinga orang Jawa, terutama mereka yang mendalami ilmu spiritual. Ilmunya pun
banyak yang menyebutnya dengan istilah ngelmu sangkan paran dengan manunggaling
kawula lan Gusti sebagai pencapaian puncaknya. ini sangat sesuai dengan
tuntunan Weda sehubungan dengan pelaksanaan dharma sadhana. Para rishi
menyatakan bahwa kita bukan badan, pikiran atau emosi kita. Kita adalah
jiwa-jiwa agung dalam perjalanan yang mengagumkan. Kita datang dari Brahman, hidup
dalam Brahman dan berkembang menuju keesaan Brahman. Kita ada dalam kebenaran,
Kebenaran yang kita cari-cari.
Kita adalah jiwa-jiwa abadi yang hidup dan tumbuh dalam langkah-langkah
kemajuan yang mengagumkan dan pengalaman keduniawian di mana kita hidup
menikmati Hidup. Para rishi Weda telah memberi kita keberanian dengan
mengucapkan kebenaran sederhana, “Brahman adalah Hidup dan hidup kita.” Seorang
siddhaguru membawa ini lebih jauh dengan mengatakan, ada satu hal yang tidak
bisa dilakukan Brahman: ”Brahman tidak bisa memisahkan Dirinya dari kita.
Kenapa? Dalam ilmu spiritual Jawa disimpulkan dalam kalimat ya sira ya ingsun.
Karena Brahman adalah hidup kita.
Brahman adalah hidup pada burung.
Brahman adalah hidup pada ikan. Brahman adalah hidup pada hewan. Menyadari akan
energi Hidup ini pada semua makhluk, kita akan menyadari kehadiran kasih
Brahman dalam diri kita. Kita adalah kesadaran dan energi kekal yang meliputi
segala hal. Di sisi dalam, kita ini sempurna setiap saat, dan kita harus
mengetahui dan berbuat sesuai dengan penyempurnaan ini agar menjadi murni.
Energi kita dan energi Brahman adalah sama, tidak ada bedanya sama sekali. Kita
semua adalah anak-anak manis dan Brahman. Setiap han kita harus berusaha
melihat energi hidup di pepohonan, burung, hewan dan manusia. Bila hal ini kita
lakukan, kita melihat Brahman sedang beraksi. Weda meyakinkan, dia mengetahui
Brahman sebagai Hidup dari hidup. Mata dari mata, Telinga dari telinga, Pikir
dari pikiran, dia sungguh memahami sepenuhnya Sebab dan semua sebab.
Kim semua tumbuh berkembang meritju Brahman. Dan pengalaman adalah - lannya.
Ngelmu iku kelakone kanthi lab. tanpa laku tangeb lamun kelakon. “Laku adalah
sadhana (disiplin kerohanian), dan orang yang sedang melaksanakan sadha yang
ketat disebut nglakoni, misalnya: tapa mbisu (monabrata), nglelana
(dharmayatra), mutih (hanya makan nasi dan minur air putih), ngrowot (hanya
makan umbi-umbian), dan berbagai “laku” ekstrim, seperti: nglelana dengan hanya
mengenakan cawat, mengemis, dan lain-lain yang bagi orang umum sangat nyeleneh
yang sebenarnya dilakukan bukan untuk menjadi perhatian khalayak, tetapi untuk
menyingkirkan ego yang melekat pada dirinya. Melalui pengalaman spiritual kita
menjadi dewasa di sisi kerohanian. Keluar dari rasa takut menuju ketabahan.
Keluar dari kemarahan menuju cinta kasih. Keluar dari perselisihan menuju
perdamaian. Keluar dari kegelapan menuju kecerahan dan menyatu dalam Brahman.
Kita telah mengambil kelahiran di dalam tubuh fisik (tumimbal lahir) untuk
tumbuh dan berkembang menuju energi potensial kita yang sangat hebat. Kita di
dalam batin telah menyatu dengan Brahman. Agama Hindu berisi pengetahuan
bagaimana cara menyadari keesaan ini dan tidak menciptakan
pengalaman-pengalaman yang tidak dikehendaki.
Jalan yang terbaik adalah mengikuti jejak dari nenek moyang spiritual kita,
menemukan arti penuh rahasia dari pustaka-pustaka Weda. Jalan yang terbaik
adalah komitmen, belajar, disiplin, pengamalan dan matang dalam yoga menuju
kearifan. Pada langkah-langkah awal, kita merasa menderita sampai kita menjadi
terlatih. Pengetahuan Weda menuntun kita pada pelayanan; sepi ing pamrih rame
ing gawe, dan pelayanan tanpa pamrih adalah awal dari tuntunan spiritual.
Pelayanan menuntun kita pada pemahaman. Pemahaman menuntun kita pada meditasi
yang mendalam dan tanpa gangguan. Akhirnya, meditasi menuntun kita berserah
diri kepada Brahman. Ini adalah jalan lurus dan pasti, menuntun kita ke arah
Guru Sejati, Sukma Jati, Kajaten, atau apa pun istilahnya yang tiada lain
adalah kesadaran Atman tujuan hidup paling utama dan kemudian menuju moksha,
terbebas dan reinkarnasi.
Weda secara bijaksana meyakinkan, “Dengan kecermatan, kebaikan diperoleh. Dari
kebaikan, pemahaman dicapai. Dari pemahaman, Jati Diri diperoleh, dan dia yang
mencapai kesadaran Atman dibebaskan dan putaran kelahiran dan kematian.”
Tarian Brahman
Semua gerakan berawal dari Brahman dan berakhir pada Brahman.
Keseluruhan dari alam semesta terlibat dalam pusaran aliran dari perubahan dan
aktivitas ini adalah tarian Brahman. Kita semua menari bersama Brahman, dan Dia
bersama kita. Akhirnya, kita adalah tarian Brahman.
Dunia terlihat seperti tersebut di atas sesungguhnya adalah keramat, hanya
ketika kita melihat tarian kosmis Brahman. Segala hal di alam semesta, semua
yang kita lihat, dengar dan bayangkan, adalah pergerakan. Galaksi-galaksi
melayang tinggi dalam pergerakan; pusaran atom-atom dalam pergerakan. Semua
pergerakan adalah tarian Brahman. Bila kita berusaha melawan pergerakan ini dan
berpikir semestinya selain dari ini, kita dengan berat hati menari bersama
Brahman. Kita dengan keras kepala menentang, menganggap diri kita terpisah,
mengkritisi proses dan pergerakan alami sekeliling kita.
Dengan pemahaman kebenaran abadi tersebut kita bawa semua bidang pikiran kita ke
dalam pengetahuan bagaimana cara menerima apa adanya dan tidak mengharapkan
menjadi yang sebaliknya. Bilamana itu terjadi, kita mulai secara sadar untuk
menari bersama Brahman, bergerak dengan aliran suci itu mengelilingi kita,
menerima pujian dan cacian, kegembiraan dan duka-cita, kemakmuran dan kesulitan
dalam ketenangan jiwa, buah dan pemahaman. Kita kemudian dengan anggun, tak
kenal menyerah, menari bersama Brahman. Weda menyatakan, “Jiwa kosmis
sesungguhnya adalah keseluruhan alam semesta, sumber abadi semua kreasi, semua
aksi, semua meditasi. Siapapun menemukan Dia, tersembunyi jauh di dalam,
memotong ikatan kebodohan, tenang selama hidupnya di dunia.”
Tarian adalah pergerakan, dan tarian paling sempurna adalah tarian
sebaik-baiknya disiplin. Disiplin Spiritual Hindu menuntun ke arah keesaan
dengan Brahman melalui refleksi diri, penyerahan diri, transformasi personal
dan banyak yoga.
Untuk kemajuan di jalan ini, kita mempelajari Weda, buku-buku tentang disiplin
spiritual Hindu dan guru-guru sadhana kita dan berusaha keras menerapkan
kebenaran filosofis ini pada pengalaman hanian. Kita berusaha mengerti pikiran
dalam alam rangkap empatnya, yaitu: chitta (kesadaran), manah (naluri), buddhi
(akal budi), dan ahamkara (ego atau keakuan). Kita melakukan japa, meditasi dan
yoga setiap hari. Disiplin spiritual seperti itu dikenal sebagai sadhana. Ini
adalah latihan kebatinan, mental, fisik dan kebhaktian yang memungkinkan kita
untuk menari bersama Brahman dengan membawa kemajuan sisi dalam, perubahan persepsi
dan perbaikan karakter.
Sadhana memungkinkan kita untuk hidup dengan sifat jiwa yang sopan dan
terpelajar. Lebih baik daripada sisi luar, naluriah atau bidang intelektual.
Untuk kemajuan yang konsisten, sadhana harus dilakukan secara teratur, dengan pasti,
pada waktu yang sama setiap hari, lebih baik pada jam-jam awal sebelum fajar.
Sadhana paling utama adalah tantangan dan latihan yang diberikan oleh seorang
guru sadhana. “Gusti” = bagusing ati (Brahman = kebijaksanaan), akronim seperti
itu sesuai dengan pesan Weda. Weda memperingatkan, “Kesadaran Atman tidak bisa
dicapai dengan kelemahan, kecerobohan, serta kedisiplinan tanpa tujuan. Tetapi
jika onang telah memiliki pemahaman yang benar, kemudian berusaha dengan
cara-cara yang benar, jiwanya memasuki tmpat kediaman Brahman.”
Atman Brahman Aikyam
Tujuan akhir hidup di atas bumi adalah untuk menyadari Atman, pencapaian yang
tidak gampang dan nirvikalpa samadhi. Setiap jiwa menemukan Ketuhanannya,
Realitas Absolut, Brahman yang kekal, tanpa waktu, tanpa bentuk, tanpa ruang,
Sang Atman.
Realisasi dan Atman, Brahman, kodrat dan setiap jiwa, dapat dicapai melalui
renunsiasi (penolakan atau penyangkalan), diteruskan meditasi dan membakar
benih-benih karma yang masih bertunas. Ini adalah pintu gerbang menuju moksha,
pembebasan dan reinkarnasi. Atman berada di luar perkiraan pikiran, di luar
perasaan yang alami, di luar aksi atau pergerakan bahkan bagian tertinggi dan
kesadaran (chitta).
Pribadi lebih solid daripada sebuah neutron, lebih sukar dipahami daripada
ruang hampa, lebih mendalam daripada pikiran dan perasaan. Ini realitas
terakhir diri kita, Kebenaran terdalam yang dicari-cari semua pencari Brahman.
Ini adalah suatu yang berharga untuk diperjuangkan. Ini perjuangan bernilai
tinggi yang dijalani dengan susah payah untuk membawa pikiran di bawah perintah
kehendak.
Setelah Atman disadari, pikiran terlihat sebagai sesuatu yang maya, tidak
nyata, itulah sesungguhnya. Karena kesadaran Atman harus dialami di dalam tubuh
fisik, putaran jiwa kembali lagi dan lagi ke dalam badan jasmani untuk menari
bersama Brahman, hidup bersama Brahman dan akhirnya manunggal dengan Brahman
menyatu dalam keesaan-Nya. Ya, Atman sebenarnya Brahman (Atman Brahman Aikyam).
Weda menjelaskan, “Seperti air dituangkan ke dalam air, susu dituangkan ke
dalam susu, menjadi satu tanpa diferensiasi, Atman dan Parama Atman menjadi
satu.” Agustus 2009- MediaHindu 66