Pages

Sunday, September 11, 2011

Pemaknaan Sangkan Paraning Dumadi dalam Dunia Hindu



Ada satu hal yang tidak bisa dilakukan Brahman: 

Brahman tidak bisa memisahkan Dirinya dari kita. Kenapa? Dalam ilmu spiritual 
Jawa disimpulkan dalam kalimat ya sira ya ingsun. Karena Brahman adalah 
hidup kita.

Kalimat sangkan paraning dumadi sudah tidak asing lagi bagi telinga orang Jawa, terutama mereka yang mendalami ilmu spiritual. Ilmunya pun banyak yang menyebutnya dengan istilah ngelmu sangkan paran dengan manunggaling kawula lan Gusti sebagai pencapaian puncaknya. ini sangat sesuai dengan tuntunan Weda sehubungan dengan pelaksanaan dharma sadhana. Para rishi menyatakan bahwa kita bukan badan, pikiran atau emosi kita. Kita adalah jiwa-jiwa agung dalam perjalanan yang mengagumkan. Kita datang dari Brahman, hidup dalam Brahman dan berkembang menuju keesaan Brahman. Kita ada dalam kebenaran, Kebenaran yang kita cari-cari.

Kita adalah jiwa-jiwa abadi yang hidup dan tumbuh dalam langkah-langkah kemajuan yang mengagumkan dan pengalaman keduniawian di mana kita hidup menikmati Hidup. Para rishi Weda telah memberi kita keberanian dengan mengucapkan kebenaran sederhana, “Brahman adalah Hidup dan hidup kita.” Seorang siddhaguru membawa ini lebih jauh dengan mengatakan, ada satu hal yang tidak bisa dilakukan Brahman: ”Brahman tidak bisa memisahkan Dirinya dari kita. Kenapa? Dalam ilmu spiritual Jawa disimpulkan dalam kalimat ya sira ya ingsun. Karena Brahman adalah hidup kita.

Brahman adalah hidup pada burung.

Brahman adalah hidup pada ikan. Brahman adalah hidup pada hewan. Menyadari akan energi Hidup ini pada semua makhluk, kita akan menyadari kehadiran kasih Brahman dalam diri kita. Kita adalah kesadaran dan energi kekal yang meliputi segala hal. Di sisi dalam, kita ini sempurna setiap saat, dan kita harus mengetahui dan berbuat sesuai dengan penyempurnaan ini agar menjadi murni. Energi kita dan energi Brahman adalah sama, tidak ada bedanya sama sekali. Kita semua adalah anak-anak manis dan Brahman. Setiap han kita harus berusaha melihat energi hidup di pepohonan, burung, hewan dan manusia. Bila hal ini kita lakukan, kita melihat Brahman sedang beraksi. Weda meyakinkan, dia mengetahui Brahman sebagai Hidup dari hidup. Mata dari mata, Telinga dari telinga, Pikir dari pikiran, dia sungguh memahami sepenuhnya Sebab dan semua sebab.
Kim semua tumbuh berkembang meritju Brahman. Dan pengalaman adalah - lannya. Ngelmu iku kelakone kanthi lab. tanpa laku tangeb lamun kelakon. “Laku adalah sadhana (disiplin kerohanian), dan orang yang sedang melaksanakan sadha yang ketat disebut nglakoni, misalnya: tapa mbisu (monabrata), nglelana (dharmayatra), mutih (hanya makan nasi dan minur air putih), ngrowot (hanya makan umbi-umbian), dan berbagai “laku” ekstrim, seperti: nglelana dengan hanya mengenakan cawat, mengemis, dan lain-lain yang bagi orang umum sangat nyeleneh yang sebenarnya dilakukan bukan untuk menjadi perhatian khalayak, tetapi untuk menyingkirkan ego yang melekat pada dirinya. Melalui pengalaman spiritual kita menjadi dewasa di sisi kerohanian. Keluar dari rasa takut menuju ketabahan. Keluar dari kemarahan menuju cinta kasih. Keluar dari perselisihan menuju perdamaian. Keluar dari kegelapan menuju kecerahan dan menyatu dalam Brahman.
Kita telah mengambil kelahiran di dalam tubuh fisik (tumimbal lahir) untuk tumbuh dan berkembang menuju energi potensial kita yang sangat hebat. Kita di dalam batin telah menyatu dengan Brahman. Agama Hindu berisi pengetahuan bagaimana cara menyadari keesaan ini dan tidak menciptakan pengalaman-pengalaman yang tidak dikehendaki.
Jalan yang terbaik adalah mengikuti jejak dari nenek moyang spiritual kita, menemukan arti penuh rahasia dari pustaka-pustaka Weda. Jalan yang terbaik adalah komitmen, belajar, disiplin, pengamalan dan matang dalam yoga menuju kearifan. Pada langkah-langkah awal, kita merasa menderita sampai kita menjadi terlatih. Pengetahuan Weda menuntun kita pada pelayanan; sepi ing pamrih rame ing gawe, dan pelayanan tanpa pamrih adalah awal dari tuntunan spiritual. Pelayanan menuntun kita pada pemahaman. Pemahaman menuntun kita pada meditasi yang mendalam dan tanpa gangguan. Akhirnya, meditasi menuntun kita berserah diri kepada Brahman. Ini adalah jalan lurus dan pasti, menuntun kita ke arah Guru Sejati, Sukma Jati, Kajaten, atau apa pun istilahnya yang tiada lain adalah kesadaran Atman tujuan hidup paling utama dan kemudian menuju moksha, terbebas dan reinkarnasi.
Weda secara bijaksana meyakinkan, “Dengan kecermatan, kebaikan diperoleh. Dari kebaikan, pemahaman dicapai. Dari pemahaman, Jati Diri diperoleh, dan dia yang mencapai kesadaran Atman dibebaskan dan putaran kelahiran dan kematian.”

Tarian Brahman 

Semua gerakan berawal dari Brahman dan berakhir pada Brahman. Keseluruhan dari alam semesta terlibat dalam pusaran aliran dari perubahan dan aktivitas ini adalah tarian Brahman. Kita semua menari bersama Brahman, dan Dia bersama kita. Akhirnya, kita adalah tarian Brahman.
Dunia terlihat seperti tersebut di atas sesungguhnya adalah keramat, hanya ketika kita melihat tarian kosmis Brahman. Segala hal di alam semesta, semua yang kita lihat, dengar dan bayangkan, adalah pergerakan. Galaksi-galaksi melayang tinggi dalam pergerakan; pusaran atom-atom dalam pergerakan. Semua pergerakan adalah tarian Brahman. Bila kita berusaha melawan pergerakan ini dan berpikir semestinya selain dari ini, kita dengan berat hati menari bersama Brahman. Kita dengan keras kepala menentang, menganggap diri kita terpisah, mengkritisi proses dan pergerakan alami sekeliling kita.
Dengan pemahaman kebenaran abadi tersebut kita bawa semua bidang pikiran kita ke dalam pengetahuan bagaimana cara menerima apa adanya dan tidak mengharapkan menjadi yang sebaliknya. Bilamana itu terjadi, kita mulai secara sadar untuk menari bersama Brahman, bergerak dengan aliran suci itu mengelilingi kita, menerima pujian dan cacian, kegembiraan dan duka-cita, kemakmuran dan kesulitan dalam ketenangan jiwa, buah dan pemahaman. Kita kemudian dengan anggun, tak kenal menyerah, menari bersama Brahman. Weda menyatakan, “Jiwa kosmis sesungguhnya adalah keseluruhan alam semesta, sumber abadi semua kreasi, semua aksi, semua meditasi. Siapapun menemukan Dia, tersembunyi jauh di dalam, memotong ikatan kebodohan, tenang selama hidupnya di dunia.”
Tarian adalah pergerakan, dan tarian paling sempurna adalah tarian sebaik-baiknya disiplin. Disiplin Spiritual Hindu menuntun ke arah keesaan dengan Brahman melalui refleksi diri, penyerahan diri, transformasi personal dan banyak yoga.
Untuk kemajuan di jalan ini, kita mempelajari Weda, buku-buku tentang disiplin spiritual Hindu dan guru-guru sadhana kita dan berusaha keras menerapkan kebenaran filosofis ini pada pengalaman hanian. Kita berusaha mengerti pikiran dalam alam rangkap empatnya, yaitu: chitta (kesadaran), manah (naluri), buddhi (akal budi), dan ahamkara (ego atau keakuan). Kita melakukan japa, meditasi dan yoga setiap hari. Disiplin spiritual seperti itu dikenal sebagai sadhana. Ini adalah latihan kebatinan, mental, fisik dan kebhaktian yang memungkinkan kita untuk menari bersama Brahman dengan membawa kemajuan sisi dalam, perubahan persepsi dan perbaikan karakter.
Sadhana memungkinkan kita untuk hidup dengan sifat jiwa yang sopan dan terpelajar. Lebih baik daripada sisi luar, naluriah atau bidang intelektual. Untuk kemajuan yang konsisten, sadhana harus dilakukan secara teratur, dengan pasti, pada waktu yang sama setiap hari, lebih baik pada jam-jam awal sebelum fajar. Sadhana paling utama adalah tantangan dan latihan yang diberikan oleh seorang guru sadhana. “Gusti” = bagusing ati (Brahman = kebijaksanaan), akronim seperti itu sesuai dengan pesan Weda. Weda memperingatkan, “Kesadaran Atman tidak bisa dicapai dengan kelemahan, kecerobohan, serta kedisiplinan tanpa tujuan. Tetapi jika onang telah memiliki pemahaman yang benar, kemudian berusaha dengan cara-cara yang benar, jiwanya memasuki tmpat kediaman Brahman.”

Atman Brahman Aikyam 

Tujuan akhir hidup di atas bumi adalah untuk menyadari Atman, pencapaian yang tidak gampang dan nirvikalpa samadhi. Setiap jiwa menemukan Ketuhanannya, Realitas Absolut, Brahman yang kekal, tanpa waktu, tanpa bentuk, tanpa ruang, Sang Atman. 
Realisasi dan Atman, Brahman, kodrat dan setiap jiwa, dapat dicapai melalui renunsiasi (penolakan atau penyangkalan), diteruskan meditasi dan membakar benih-benih karma yang masih bertunas. Ini adalah pintu gerbang menuju moksha, pembebasan dan reinkarnasi. Atman berada di luar perkiraan pikiran, di luar perasaan yang alami, di luar aksi atau pergerakan bahkan bagian tertinggi dan kesadaran (chitta).
Pribadi lebih solid daripada sebuah neutron, lebih sukar dipahami daripada ruang hampa, lebih mendalam daripada pikiran dan perasaan. Ini realitas terakhir diri kita, Kebenaran terdalam yang dicari-cari semua pencari Brahman. Ini adalah suatu yang berharga untuk diperjuangkan. Ini perjuangan bernilai tinggi yang dijalani dengan susah payah untuk membawa pikiran di bawah perintah kehendak.

Setelah Atman disadari, pikiran terlihat sebagai sesuatu yang maya, tidak nyata, itulah sesungguhnya. Karena kesadaran Atman harus dialami di dalam tubuh fisik, putaran jiwa kembali lagi dan lagi ke dalam badan jasmani untuk menari bersama Brahman, hidup bersama Brahman dan akhirnya manunggal dengan Brahman menyatu dalam keesaan-Nya. Ya, Atman sebenarnya Brahman (Atman Brahman Aikyam). Weda menjelaskan, “Seperti air dituangkan ke dalam air, susu dituangkan ke dalam susu, menjadi satu tanpa diferensiasi, Atman dan Parama Atman menjadi satu.” Agustus 2009- MediaHindu 66

Pemahaman Sangkan Paraning Dumadi Dalam Filosofi Kejawen



Dalam hidup ini, manusia senantiasa diingatkan untuk memahami filosofi Kejawen yang

berbunyi "Sangkan Paraning Dumadi". Apa sebenarnya Sangkan Paraning Dumadi? Tidak banyak orang yang mengetahuinya. Padahal, jika kita belajar tentang Sangkan Paraning Dumadi, maka kita akan mengetahuikemana tujuan kita setelah hidup kita berada di akhir hayat.



Manusia sering diajari filosofi Sangkan Paraning Dumadi itu ketika merayakan Hari Raya Idul Fitri. Biasanya masyarakat Indonesia lebih suka menghabiskan waktu hari raya Idul Fitri dengan mudik. Nah, mudik itulah yang menjadi pemahaman filosofi Sangkan Paraning Dumadi. Ketika mudik, kita dituntut untuk memahami dari mana dulu kita berasal, dan akan kemanakah hidup kita ini nantinya.

Untuk lebih jelasnya, marilah kita simak tembang dhandanggula warisan para leluhur yang sampai detik ini masih terus dikumandangkan.

Kawruhana sejatining urip / (ketahuilah sejatinya hidup)
urip ana jroning alam donya / (hidup di dalam alam dunia)
bebasane mampir ngombe / (ibarat perumpamaan mampir minum)
umpama manuk mabur / (ibarat burung terbang)
lunga saka kurungan neki / (pergi dari kurungannya)
pundi pencokan benjang / (dimana hinggapnya besok)
awja kongsi kaleru / (jangan sampai keliru)
umpama lunga sesanja / (umpama orang pergi bertandang)
njan-sinanjan ora wurung bakal mulih / (saling bertandang, yang pasti bakal pulang)
mulih mula mulanya / (pulang ke asal mulanya)

Kemanakah kita bakal 'pulang'?
Kemanakah setelah kita 'mampir ngombe' di dunia ini?
Dimana tempat hinggap kita andai melesat terbang dari 'kurungan' (badan jasmani) dunia ini?
Kemanakah aku hendak pulang setelah aku pergi bertandang ke dunia ini?
Itu adalah suatu pertanyaan besar yang sering hinggap di benak orang-orang yang mencari ilmu sejati.

Yang jelas, beberapa pertanyaan itu menunjukkan bahwa dunia ini bukanlah tempat yang
langgeng. Hidup di dunia ini hanya sementara saja. Oleh karena itu, tidak ada salahnya jika kita menyimak tembang dari Syech Siti Jenar yang digubah oleh Raden Panji Natara dan digubah lagi oleh Bratakesawa yang bunyinya seperti ini:

"Kowe padha kuwalik panemumu, angira donya iki ngalame wong urip,
akerat kuwi ngalame wong mati; mulane kowe pada kanthil-kumanthil marang
kahanan ing donya, sarta suthik aninggal donya."  

("Terbalik pendapatmu, mengira dunia ini alamnya orang hidup, akherat itu alamnya orang mati. Makanya kamu sangat lekat dengan kehidupan dunia, dan tidak mau meninggalkan alam dunia")


Pertanyaan yang muncul dari tembang Syech Siti Jenar adalah:
Kalau dunia ini bukan alamnya orang hidup, lalu alamnya siapa?

Syech Siti Jenar menambahkan penjelasannya:
"Sanyatane, donya iki ngalame wong mati, iya ing kene iki anane swarga lan naraka, tegese, bungah lan susah. Sawise kita ninggal donya iki, kita bali urip langgeng, ora ana bedane antarane ratu karo kere, wali karo bajingan."(Kenyataannya, dunia ini alamnya orang mati, iya di dunia ini adanya surga dan neraka, artinya senang dan susah. Setelah kita meninggalkan alam dunia ini, kita kembali hidup langgeng, tidak ada bedanya antara yang berpangkat ratu dan orang miskin, wali ataupun bajingan")

Dari pendapat Syech Siti Jenar itu kita bisa belajar, bahwa hidup di dunia ini yang serba berubah seperti roda (kadang berada di bawah, kadang berada di atas), besok mendapat kesenangan, lusa memperoleh kesusahan, dan itu bukanlah merupakan hidup yang sejati ataupun langgeng.

Wejangan beberapa leluhur mengatakan:
"Urip sing sejati yaiku urip sing tan kena pati". (hidup yang sejati itu adalah hidup yang tidak bisa terkena kematian). Ya, kita semua bakal hidup sejati. Tetapi permasalahan yang muncul adalah, siapkah kita menghadapi hidup yang
sejati jika kita senantiasa berpegang teguh pada kehidupan di dunia yang serba fana?

Ajaran para leluhur juga menjelaskan:
"Tangeh lamun sira bisa ngerti sampurnaning pati,
yen sira ora ngerti sampurnaning urip."
(mustahil kamu bisa mengerti kematian yang sempurna,
jika kamu tidak mengerti hidup yang sempurna).

Oleh karena itu, kita wajib untuk menimba ilmu agar hidup kita menjadi sempurna dan mampu meninggalkan alam dunia ini menuju ke kematian yang sempurna pula.

Asal Usul Manusia



Kenyataan yang dijumpai dalam kehidupan sehari-hari didunia ini adalah : Dimana-mana ada manusia, kita sendiri juga mahluk manusia yang tinggal disebuah tempat dari belahan bumi. Sejak kecil kita bergaul dengan ibu, ayah, kakak, adik, nenek, kakek, saudara, tetangga, teman, yang semuanya mahluk manusia. Kemanapun kita berada, pergi dan berurusan, tentu berhubungan dengan bangsa kita sendiri, yaitu sama-sama bangsa  manusia.

Sebagai orang yang punya perasaan instinktif dan pikirannya selalu jalan, hati kecilnya tentu bertanya : Di dunia ini ada begitu banyak manusia yang menjalani kehidupan di berbagai tempat, di kota, di desa, di beberapa benua, negara, di daerah tropis maupun di pinggir kutub, ada pemukiman manusia.

Perjalanan waktu dan sejarah telah menunjukkan perkembangan manusia, sejak masa primitif sampai era modern ini.Kehidupan telah menunjukkan bahwa mahluk manusia dan mahluk-mahluk lain yang berbadan fisik seperti bermacam hewan, berkembang dan beranak pinak melalui perantaraan induk yang dibuahi pejantannya.

Pada manusia, dengan bunga-bunga kalimat sastra, dikisahkan melalui paduan kasih seorang wanita dan pria terkasihnya, istri dengan suami, terlahirlah buah cinta yang disebut bayi.


Perkembangan nama manusia

Pada zaman dahulu kala, manusia berkomunikasi antar sesama melalui perasaan dan pikiran, istilah asingnya : through their mind. Pada masa mula-mula manusia dibumi, perasaan dan pikiran (mind) para nenek moyang bangsa manusia sangatlah peka, tajam sekali. Dengan melalui rasa dan pikiran dan saling melihat saja, mereka bisa saling mengerti. Memang, dizaman mula tersebut, kekuatan telepati manusia tajam sekali. Ini juga satu anugerah dari alam, dari Gusti.


Lece

Kemudian, mulai muncul bahasa isyarat, lalu secara bertahap, suara yang keluar dari mulut semakin teratur dan lama-lama bisa dikendalikan sehingga sinkron dengan kehendak yang dikendalikan otak.

Menurut Kejawen, mahluk manusia dimasa itu disebut : Lece, dimana komunikasi masih dengan bahasa isyarat dan lengkingan-lengkingan suara yang belum teratur.


Mudita

Mudita adalah sebutan untuk orang, ketika orang sudah bisa menyebutkan nama barang-barang yang ada didunia ini dan selanjutnya muncul kata-kata sifat.
Kata-kata yang mulai dipakai adalah benda-benda yang ada disekitarnya, seperti : aku, kamu, nama-nama makanan seperti juwawut, padi; nama-nama buah-buahan, nama-nama binatang seperti ikan, burung, kambing, sapi dsb. Lalu dikenal nama-nama benda alam seperti : tanah, bumi, matahari, langit, air, api, bulan, bintang, angin dsb. Sesudah itu kata-kata yang berhubungan dengan rasa seperti : panas, dingin, terang, gelap, enak, sakit, manis, pahit, kecut, asin dsb.

Jadi sejak ada Mudita, bahasa mulai berkembang. Rupanya, mudita telah diberi kuasa oleh Sang Pencipta, Tuhan, untuk memberi nama semua hal yang ada dialam ini. Orang-orang tua kita berkata, kalau tidak ada mudita , tak ada kata-kata dan bahasa: Kabeh ora kocap – Segala hal tak terucapkan.


Manusia

Pada perkembangan lebih lanjut, mudita disebut manusia, yaitu mahluk yang punya malu.
Manusia dari manuswa. Manu artinya malu dan swa artinya hewan. Seseorang yang tidak punya rasa malu dikatakan berwatak seperti hewan.
Rupanya peradaban mulai meningkat, manusia punya malu, tidak seperti hewan.


Wong, Wahong

Menurut pemahaman Kejawen, ketika orang sudah disebut manusia, budaya dan peradaban berkembang lebih cepat.

Ada orang-orang tua bijak yang tajam dan bening rasa hatinya. Melalui mereka, manusia menerima pembelajaran kembali tentang esensi kehidupan.

Manusia, semua mahluk, tetumbuhan, benda dibumi, tidak bisa dipisahkan keberadaannya dari alam, karena merupakan bagian alam.Untuk itu, sejak dulu manusia sadar untuk harus melestarikan, menjaga, merawat alam ini sebaik-baiknya, karena tanpa alam tidak ada eksistensi manusia dibumi ini. Kalau bumi dan alam rusak, hidup dan eksistensi manusia terancam. Ini sebenarnya adalah sebuah pemahaman klasik!

Alam raya beserta segala isinya termasuk manusia berada dalam keadaan seperti ini, setelah melalui proses yang teramat panjang. Keberadaan alam beserta isinya termasuk umat manusia karena dikehendaki dan dicipta oleh Sang Pencipta Alam, yang dalam perkembangannya dipuja dengan asma:  Gusti, Pangeran, Tuhan Yang Maha Kuasa dan Welas Asih ( dan tentu nama-nama Tuhan dalam berbagai agama dan bahasa).

Menurut pemahaman Kejawen, manusia sebelum terlahir didunia ini dengan perantaraan ibu dan bapak, adalah suksma, spirit yang berada dialam asal muasal dibawah kuasa langsung Gusti.

Jadi, manusia adalah suksma, spirit yang memakai pakaian raga fisik dan raga halus untuk menjalani kehidupan didunia ini. Dewa -dewi adalah juga mahluk ciptaan Tuhan yang berujud spirit,  yang esensinya adalah cahaya, sama dengan esensi suksma. Oleh karena itu, pinisepuh Kejawen menyebut orang : Wahong, artinya anak keturunan atau berasal dari dewa. Dalam perkembangan bahasa, kata wahong berubah menjadi wong, artinya orang. Lalu kita sering mendengar ungkapan : wong Jawa, wong Sunda, wong Indonesia, wong Asia, wong Amerika dsb.


Tiyang, Ti Hyang

Dalam bahasa Jawa krama inggil, bahasa halus, wong adalah tiyang dari kata Ti Hyang, berasal dari dewa, spirit.
Dalam kehidupan ini, sangat sedikit orang yang menyadari bahwa dia itu sebenarnya adalah suksma/roh yang berpakaian badan kasar dan badan halus. Padahal ini adalah pemahaman kunci bagi Kejawen dan spiritualitas universal.


Kenalilah dirimu yang sejati

Pada umumnya, dikarenakan pengaruh kuat dari keperluan materi dan duniawi dalam kehidupan ini, banyak orang yang lupa kehidupan sejati, tidak tahu asal muasalnya dan esensi hidupnya.

Yang hidup adalah suksma/roh yang berada dibadan orang. Kalau suksma/roh kembali ke asal muasal karena berbagai alasan, maka orang itu mati. Sedangkan suksma tetap hidup dan kembali pulang ketempat asal muasal dialam kelanggengan, ada yang memberi istilah : kembali ke haribaan Tuhan.
Tuhan juga tak berwujud fisik, Beliau adalah Sang Pencipta, Sang Suksma Agung.

Yang bisa berkomunikasi dengan cara terhalus dengan Gusti, Sang Suksma Agung, adalah suksma yang berada diraga manusia. Oleh karena itu, seorang manusia seharusnya mengenali diri sejatinya, pribadi sejatinya, yang adalah suksma.

Itulah sebabnya kenapa para spiritualis, orang-orang bijak sering berkata : “ Kenalilah dirimu sendiri”, istilah asingnya “Know thyself”.
Orang akan memahami dan mengalami kehidupan didunia dengan tentram bahagia ( dan tidak larut arus kehidupan yang tidak baik dengan berebut harta, kekuasaan dan berbagai macam akal-akalan yang tidak baik); sesudah dia bisa akrab dengan suksma-nya, yang adalah diri sejatinya, Sang Pribadi, istilah asingnya Higher Self.

Itulah yang dikatakan orang yang telah mendapatkan pencerahan secara spiritual, telah akrab dengan Sang Suksma, Pribadi Sejati, Higher Self, selalu akan sadar akan misi hidupnya dari Gusti, Tuhan, Sang Suksma Agung.
Hidupnya didunia pasti membawa misi yang bermanfaat bagi kehidupan umat manusia dan jagat ini.


Kenapa suksma berada didunia?

Ini pertanyaan yang menggelitik, yang sejak dulu tidak henti-hentinya dilontarkan.
Suksma mendapat kesempatan dari Tuhan untuk berkiprah di dunia dan menjalankan suatu misi, suatu tugas yang mesti dilaksanakan sebaik-baiknya sampai tuntas.

Ungkapan yang lebih lugas menyatakan : Suksma harus sekolah di dunia.

Sayangnya, Sang Suksma ketika sudah sampai di bumi dan berujud manusia, menemui banyak hambatan dan goda dalam menjalankan misinya. Hubungan sang suksma dengan kendaraan yang dipakainya, manusia dengan egonya, tidak sinkron. Ini disebabkan si manusia terlalu didominasi oleh elemen-elemen duniawi , maunya hanya memenuhi keinginan materi dan duniawi yang penuh nafsu, meninggalkan esensi spiritualnya. 

Menyiasati hal ini, pinisepuh Kejawen tidak bosan-bosannya mengingatkan : Eling lan waspada - Sadar dan waspadalah, siapa dirimu sebenarnya dan apa tugas sejatimu didunia.


Hidup bagai roda berputar.

Ajaran Timur termasuk Kejawen mempercayai bahwa kehidupan seseorang itu seperti roda yang berputar, istilah kebatinannya : Cakra manggilingan.
Artinya, satu saat suksma turun menetap sementara didunia, pada saat lain dia berada dialam suksma, lalu dapat tugas lagi dibumi dan seterusnya ,selalu berputar.

Jadi, spiritualitas Timur percaya kepada adanya inkarnasi dan reinkarnasi.

Dalam kehidupan sehari-hari, istilah hidup bagai roda, cakra manggilingan diartikan : Jalan hidup seseorang, satu ketika bisa susah, lain kali mengalami masa jaya, makmur.

Perjalanan suksma, berasal dari mula-mula, kemudian dapat tugas dari Tuhan untuk tinggal dibumi, lalu kembali lagi ke alam mula-mula alamnya suksma, itu merupakan perjalanan yang benar.

Karena ada banyak suksma, sesudah orangnya meninggal, tidak mulus kembali kealam mula-mula. Dia nyasar pulangnya, karena telah membuat kesalahan fatal ketika berada didunia. Dia telah berbuat/membiarkan terjadinya perbuatan yang tidak baik dan melakukan dosa.
Mengenai hal ini, akan kita kupas kemudian.

Untuk mendapatkan gambaran yang lebih luas dan jelas, kita akan membicarakan tentang terjadinya jagat raya dan bumi ini, tempat mahluk manusia bertempat tinggal.



Suryo S. Negoro (Jagad Kejawen)